SEJARAH - Cerita Wong Pati

Halaman

    Social Items


Cerita Rakyat yang sudah merakyat asal-usul Kota Pati Jateng



SEJARAH  KOTA  PATI

 Banyak cerita yang berkembang di masyarakat tentang sejarah Kota Pati, tentunya  ada yang berbeda pendapat ,seperti halnya hari jadi kota Pati yang di tetapkan oleh pemerintah kabupaten daerah tingkat II Pati.
Tanggal 7 Agustus 13237 sebagai hari jadi Kabupaten Pati telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kabupaten Pati No.2/1994 tanggal 31 Mei 1994, menjadi moment Hari Jadi Kabupaten Pati dengan surya sengkolo “ KRIDANE PANEMBAH GEBYARING BUMI “ bermakna ; “ Dengan bekerja keras dan doa kita gali Bumi Pati untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriah dan bathiniah “. Maka setiap tanggal 7 Agustus diperingati sebagai “ Hari jadi Kabupaten Pati “.


 Hal ini juga menimbulkan polemik  pro dan kontra dikalangan sejarahwan, serta masyarakat sendiri. Para tim hari jadi Pati berpedoman pada cerita rakyat yang sudah berkembang dimasyarakat, beberapa prasasti yang di temukan dan  juga dari buku babab Pati. Kota Pati memang menyimpan segudang cerita dan benar-benar misteri. Bagaimana cerita terjadinya  kota Pati,penulis mengambil cerita rakyat yang sudah berkembang turun temurun dimasyarakat pada umumnya.

              Ini adalah cerita yang di wariskan secara turun-temurun oleh embah buyut kita. Ceritanya kurang lebih seperti ini. Dahulu di ceritakan diwilayah kota Pati, sebelum terjadinya kota Pati, ada dua Kadipaten yang berkuasa. Kadipaten tersebut adalah Kadipaten  Paranggaruda di pimpin oleh seorang Adipati yang bernama Adipati Yudhapati, ada di Desa Godo Kec, Winong yang sekarang ini. Wilayah kekuasaan Sebelah Selatan Bengawan Silugonggo atau Sungai Juwana (Dulu Cajongan ) membentang Gunung Kendeng  sekitarnya. Kedua Kadipaten Carangsoko yang dipimpin oleh Adipati Puspohandungjaya, wilayah sebelah utara sungai Bengawan Silugonggo daerahnya  meliputi wilayah kalau sekarang  Wedarijaksa, sekitar lereng gunung Muria meluas kepesisir utara . Kedua  Kadipaten ini selalu hidup rukun damai.

            Di kisahkan Kadipaten Paranggaruda penguasanya Adipati Yudhapati yang berpusat di Desa Godo Kec.Winong Sekarang ini. Sebagai wilayah kekuasaannya sebelah selatan Bengawan Silugonggo atau Sungai Juwana. Masyarakat menyakini karena di tempat Tersebut ada beberapa peninggalan sejarah, ada makam yang di yakini oleh masyarakat sekitar sebagai makam Kajeng Adipati Yudhapati dan sangat di keramatkan di uri-uri keberadaannya. Dua buah pohon asam yang sangat besar juga di yakini oleh masayarakat sekitar sebagai peninggalan jaman dulu,serta beberapa benda sejarah lain.

            Dikisahkan Adipati Yudhapati penguasa Kadipaten Paranggaruda dalam masa pemerintahannya rakyat “ Gemah Ripah Loh Jinawi “ rakyat cukup sandang pangan dan papan ,makmur aman sentosa. “ Gemah  “ banyak  orang-orang yang melakukan perdagangan ,jual beli baik daerah sendiri maupun luar kota. “Ripah “ banyak orang-orang yang berdatangan bertempat tinggal dan melakukan aktifitas membuat daerah menjadi ramai.. “ Loh jinawi “, loh jinawi itu memiliki arti apa yang ditanam pasti tumbuh dengan subur, dan serbar murah, sebab semuanya tersedia. “Loh” berarti tukul kang sarwo tinandur,walaupun dengan saluran air atau irigasi yang masih sederhana. Daerah yang “karta tur rahardja”, kerta : diartikan kawula hidup tentram, dan rahardja: diartikan tidak ada yang mengusik atau aman.
Kadipaten Paranggaruda dengan  Adipati Yudhapati. Adipati dalam pemerintahannya diceritakan dibantu oleh seorang Patih bernama Singopati yang bertempat tinggal di Kropak (di Kecamatan  Winong sekarang ). Sedangkan sebagai tamtama bernama Yuyurumpung. Yuyurumpung ini mempunyai orang kepercayaan bernama Sondong Majeruk, di desa Majeruk di Kabupaten Rembang sekarang. Para bekel atau demang – demang yang menjadi penguasanya adalah Demang Gendala, Demang Semut, Demang Gunungpanti, Demang Tlagamaja dan Demang Jembangan (sekarang disebut Batangan).
            
Sedangkan di ceritakan Kadipaten Carangsoka keadaannya lebih subur daripada Kadipaten Paranggaruda. Karena di lihat dari banyaknya sungai – sungai untuk keperluan irigasi pertanian,perkebunan dan perikanan atau kolam, sungai – sungai  antara lain: kali Sani, kali Gungwedi, kali Kersula, dan kali Tayu, sehingga daerah tersebut menjadi subur. Disamping itu Kadipaten Carangsoka mempunyai pertanian, perkebunan yang meningkat dan penghasil perikanan berupa ikan laut di pantai timur dan perikanan darat. Lintas perdagangan melalui pelabuhan Juwana (Cajongan) sehingga banyak pedagang yang datang dari luar daerah.
Kadipaten Carangsoka dipimpin oleh Adiapati Raden Puspahandungjaya yang memiliki sifat “berbudi bawa laksana” dengan Patihnya bernama Raden Singapandu, bertempat tinggal di desa Nguren sekarang. Pemerintahan Kadipaten Carangsoka saat itu dalam suasana aman dan tentram. Adapun sebagai tamtama adalah Sondong Makerti yang sakti mandraguna, trengginas dan trampil olah prajurit dan bertempat tinggal di Wedari konon cerita mempunyai lembu sakti “sapi gumarang”.

Adipati Puspohandungjaya mempunyai seorang adik ipar yang sakti, masih muda, pandai dan cekatan yang dapat membantu jalannya pemerintahan di Kadipaten Carangsoka, bernama Raden Sukmayana dan bertempat tinggal di Majasemi sebagai penggede (Mojoagung sekarang), selain itu Adipati mempunyai putri bernama Dewi Rara Rayung Wulan yang cantik jelita.

Adipati Yudhapati di Paranggaruda mempunyai anak laki – laki bernama Raden Bagus Menak Jasari yang kemudian hari diharapkan akan menggantikan tahta memegang Adipati di Paranggaruda. Karena Raden Bagus Menak Jasari sebagai anak tunggal maka segala permintaaan selalu dikabulkan, tetapi sayang dalam ceita di kisahkan Raden Bagus Jasari ini mempunyai potongan tubuh cacat atau tidak normal, pendek leher, kaki pengkor, jari – jari tidak normal,dan punya penyakit kulit gatal-gatal.
Gambar dari google
Inilah awal cerita dari tragedi cinta bermula dan mengawali cerita terjadinya kota Pati. Untuk mempererat tali persahabatan, persaudaraan, Kadipaten Paranggaruda berencana menjodohkan anaknya. Raden Jasari  dijodohkan dengan putri dari Carangsoka yang bernama Dewi Rara Rayung Wulan. Adipati Yudhapati utusan patih Singopati untuk melamarnya. Adipati Carangsoka dengan bijaksana menyerahkan semua keputusan  pada anaknya, Dewi Rayung Wulan bersedia untuk di nikahkan  dengan Raden Jasari akan tetapi, Dewi Rayung Wulan minta   “ bebono “ atau syarat pada hari pernikahannya minta diarak kesenian wayang kulit dengan dalang Ki Sapanyana dan peralatan wayang kulit, gamelan tersebut dapat datang sendiri dan berbunyi sendiri. Kemudian Patih Singopati melapor kepada Adipati Yudhapati tentang permintaan Dewi Rayung Wulan, diperintahkan Yuyurumpung yang siap menjalankan tugas.

Ceritanya apa yang  diminta Dewi Rara Rayung wulan terpenuhi, Dewi Rara Rayung Wulan meminta Ki Dalang Sapanyana harus memainkan lakon yang sangat sedih, seperti lakon yang baru dia alami. Karena Dewi Rara Rayung Wulan tidak suka perjodohan ini,  Dewi Rara Rayung wulan tidak mencintai Raden Jasari.  Ki Dalang Sapanyana menyanggupinya walau ini lakon yang tidak biasa dia lakonkan. Dengan dibantu oleh adiknya  ki Dalang yaitu Roro Ayu Ambarsari dan Roro Ayu  Ambarwati sebagai waranggono atau swarawati.
 Kisah atau lakon wayang yang sedih inilah menggambarkan kesedihan hati Dewi Rayung Wulan. Semua penonton seakan terhipnotis dengan lakon yang di mainkan oleh Ki Dalang Sapanyana tersebut. Saat pertunjukan wayang berjalan, Dewi Rayung Wulan tiba-tiba lari kearah dalang Sapanyana, dan minta diajak kabur. Tentu Ki Dalang Sapanyana sangat kaget, dan terjadi kekeribut dalam acara pernikahan tersebut. Konon cerita Ki Dalang Sapanyono mengeluarkan kesaktiannya memadamkan semua lampu penerangan yang ada, saat gelap itu Ki Dalang Sapanyono mengambil kesempatan untuk melarikan diri. 

Acara pernikahan yang berantakan,gempar, saat penerangan di hidupkan kembali, Ki Dalang Sapanyana,Dewi Rayung Wulan dan kedua Swarawati , Ambarsari, Ambarwati sudah tidak ada mereka berempat sudah melarikan diri, Adipati Carangsoko marah memeritahkan patihnya untuk mengatasi semua ini. Sedangkan Adipati Paranggaruda dan anaknya R.Jasari marah besar dan memerintahkan Patih dan seluruh prajuritnya untuk mengejar mereka. Dengan amarah yang meluap luap merasa dipermalukan mengobrak-abrik dengan kasar dan paksa memeriksa setiap rumah penduduk yang ditemuinya ini sangat tidak membuat senang penduduk desa wilayah Carangsoko.

 Dalam pelarian Ki Dalang Sapanyana dengan Dewi Rayung Wulang dan  Dewi Ambarsari,  Ambarwati, terus lari masuk hutan menelusuri aliran sungai. dan secara tidak segaja ketemu dengan Raden Kembangjaya di dukuh Bantengan (Kecamatan Trangkil sekarang). 

            Konon cerita awal pertemuanya, saat Ki Dalang Sapanyana berempat istirahat, betapa sulitnya pelarian ini yang harus membawa tiga orang putri, terutama Dewi Rayung Wulan yang tidak pernah keluar Kadipaten dan tidak pernah kerja keras. Saat mereka kehausan butuh makan .minum,panas teriknya matahari di musim kemarau menyiksa mereka. Ki Dalang sangat bingung mau minta penduduk tidak berani takut kepergok para prajurit yang mengejarnya. 

            Sampailah mereka diperkebunan warga pinggir hutan,disitu ada sebuah sumur oleh petani airnya untuk minum dan menyirami tanaman. Ki Dalang Sangat senang, tapi saat mau mengambil air sumur,tidak ada timba ataupun tali.Konon ceritanya Ki Dalang Sapanyana berdoa menggeluarkan kesaktiannya dengan cara menggulingkan sumur tersebut untuk diambil airnya. Bagaimana…. bisa membayangkan sumur digulingkan, itu ceritanya, sampai sekarang sumur tersebut masih ada dan dirawat serta di uri-uri warga setempat. Sumur tersebut terkenal dengan nama Sumur Gemuling dengan arti kata digulingkan, berada dukuh Bantengan, Trangkil Pati utara.

            Dilanjutkan ceritannya, saat Ki Dalang Sapanyana mengambil buah-buahan dipersawaan warga, karena saking seringnya akhirnya ketahuan oleh Raden Kembangjaya,dan para warga. Ki Dalang terkepung, terjadi perang tandi adu kesaktian antara Ki Dalang Sapanyana dan Raden Kembangjaya, sementara ketiga putri bersembunyi menyaksikan pertarungan yang mendebarkan itu dari persembuyian.

            Ki Dalang Sapanyana akhirnya bisa di tundukan oleh Raden Kembangjaya,karena kalah sakti. Ki Dalang sudah tidak berdaya ketika R.Kembanjaya menyuruh warga untuk mengikat tangannya. Saat itulah Rayung Wulan dan Ambarsari,Ambarwati berlari menghampirinya, minta pengampunan. R.Kembanjaya sangat kaget, tidak mengira kalau “ Maling “ buah-buahan ini disertai dengan tiga Putri yang cantik-cantik. Rayung Wulan kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mendengar cerita Dewi Rayung Wulan, Ki Dalang di bebaskan ikatannya dan keempatnya diajak pulang ke Majasemi Menghadap Panewu Raden Sukmayana.
            Sudah Diceritakan Raden Sukmayana adalah adalah penguasa di wilayah Majasemi atau Mojoagung,  adik ipar Adipati Carangsoko. Setelah keempat menghadap R. Sukmayana, dan menceritakan semuanya, R.Sukmayana bersedia menampung dan melindungi mereka. Ki Dalang Sapanyana sangat berterima kasih, dan memberikan kedua saudaranya untuk dijadikan hambanya. Ambarsari diambil oleh Raden.Sukmayana sebagai selir, Ambarwati diberikan pada R.Kembangjaya dijadikan istri. Sedangkan Dewi Rayung Wulan dikembalikan ke orang tuanya di kadipaten Carangsoko.

            Perang sudah tidak terelakan lagi atara Kadipaten Carangsoko dan Kadipaten Paranggaruda, yang sudah merasa dipermalukan. Dengan amarah besar Adipati Yudhapati memerintahkan prajuritnya untuk menyerbu Kadipaten Carangsoko dan Majasemi, mengempur habis-habisan,   kobaran api amarah tidak terbendung lagi. Adipati Puspo handungjaya dibantu oleh penguasa Majasemi R.Sukmayana dan adiknya R.Kembangjaya ,serta Ki Dalang Sapanyana sudah  siap tempur menghadapi prajurit Paranggaruda.
            Mungkin ada yang bertanya siapa Ki dalang Sapanyana
           Dalam cerita  Ki Dalang Sapanyana adalah keponakannya Buyut Sabirah (Nyai Ageng Bakaran) yang semula bernama Nyai Banowati. Ki Dalang Sapanyana merupakan pelarian perang  dari Jawa Timur. Setelah membantu Raden Kembangjaya mendirikan Kadipaten Pesantenan kemudian diangkat menjadi Patih di Kadipaten tersebut, dan namanya diganti menjadi Raden Singasari.
            Di Purwodadi ada tempat petilasan Ki Dalang Sapanyono ,konon untuk menyepi Dalang Sapanyana sebelum diangkat Patih di Kadipaten Pesantenan, sampai sekarang dipergunakan nyepi para calon dalang. Sedangkan di desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana juga terdapat petilasan berupa gilang yang bertekuk cerita merupakan tempat duduk Ki Dalang Sapanyana saat sedang mendalang. Sampai sekarang petilasan tersebut dikeramatkan dan banyak dikunjungi orang.

Kembali cerita pelarian Ki Dalang Sapanyana dan Rayung Wulan, para prajurit Paranggaruda yang mengejar Ki Dalang akhirnya tahu kalau,Ki Dalang dan Rayung Wulang disembunyikan oleh penggede Majasemi,Raden Sukmayana dan adiknya Raden Kembangjaya. Digempurnya Majesemi,tapi amukan prajurit parang garuda bisa diatasi oleh Raden Sukmayana dan dihajar habis,mereka lari kembali ke Kadipaten Paranggaruda dan lapor pada Adipati Yudhapati.
            Amarah Adipati Parangaruda semakin menjadi,memerintahkan patihnya,tatama seluruh prajurit untuk maju perang,menggempur Majasemi dan kadipaten Carangsoko. Diceritakan kalau Raden Sukmayana mempunyai dua pusaka yang ampuh, sakti pilih tanding yaitu Kuluk Kanigoro dan Keris Ramput Pinutung. Yuyu Rumpung pentolan prajurit Paranggaruda tahu kalau kedua pusaka sakti itu dimiliki oleh R.Sukmayana diMojasemi, maka Yuyu Rumpung memerintahkan anak buahnya Sondong Majeruk untuk mencuri pusaka tersebut.Dengan kesaktiannya Sondok Majeruk berhasil mencuri kedua pusaka tersebut, diperjalanan  ketahuan oleh prajurit kepercayaan Majesemi yaitu Sondong Makerti.

Perkelahian perebutan kedua pusaka sakti, antara Sondong Majeruk dan Sondong Makerti, menguras tenaga keduanya, mereka sama-sama sakti, sama-sama prajurit pilihan. Sondong Majeruk akhirnya kehabisan tenaga, kalah sakti dengan Sondong Makerti.  Kedua Pusaka Sakti Kuluk Kanigoro dan Karis Ramput pinutung dengan satu taktik bisa direbut kembali oleh Sondong Makerti, dan Sondong Majeruk gugur dengan tusukan keris Ramput Pinutung yang sudah ada ditanggan Sondong Makerti. Oleh Sondong Makerti kedua pusaka tersebut dikembalikan lagi ke pemiliknya,R.Sukmayana di Majasemi.    gambar dari google
                                 
            Perang terus berkobar, sudah banyak korban dikedua belah pihak, Wilayah Majasemi dan Kadipaten Carangsoka digempur oleh Prajurit-prajurit Paranggaruda, Raden Sukmayana penggede Majesemi dengan gagah, maju kepalagan berusaha menghalau amukan prajurit paranggaruda, R.Sukmayana akhirnya gugur dimedan perang. 
            Gugurnya Raden Sukmayana ( kakak kandung R. Kembangjaya ), membuat marah R.kembangjaya amarahnya meluap, diambil alihnya kedua pusaka Kuluk Kanigoro dan Keris Ramput Pinutung memimpin perang dibantu Ki Dalang Sapanyana, mengamuk,mengobrak-abrik pasukan Paranggaruda, mengeluarkan semua kesaktiannya, prajurit musuh diterjang hingga kocar-kacir banyak jatuh korban dipihak musuh. Melihat amukan dan semangat R.Kembangjaya, Kidalang Sapanyana serta prajurit Majasemi,Carangsoka kembali ikut berkobar-kobar, membara bagai panasnya lahar gunung berapi, prajurit Paranggaruda dihajar habis-habisan. Mereka banyak yang tewas sebagian melarikan diri dan menyerah tunduk dihadapan R. Kembangjaya dan pasukan Majasemi,Carangsoka.

            Sedangkan pertempuran antara Patih Paranggaruda Singopati  dan Patih Carangsoko Singopadu, sangat melelahkan, mereka bertemu lawan yang seimbang,sama-sama sakti,sama-sama kuat dan akhirnya mereka sama-sama gugur di medan perang dengan gagah berani. Begitu juga dengan Adipati Yudhapati dapat dikalahkan oleh R.Kembangjaya dengan bekal kedua pusaka sakti Kuluk Kanigoro dan Keris Ramput Pinutung, Adipati Paranggaruda gugur,ditanggan R. Kembangjaya.  Radem Jasari anak Adipati Yudhapati tewas ditanggan Ki dalang Sapanyana.

Perang akhirnya berakhir dengan banyak membawa korban di kedua belah pihak, Adipati Carangsoko, Adipati Puspa Handungjaya sangat berterima kasih dengan R. Kembangjaya.  Dewi Rayung wulan diserahkan kepada R. Kembangjaya sebagai Istri, selain Dewi Ambarwati dan tinggal di Kadipaten Carangsoko. Setelah Adipati Puspo Handungjaya lanjut usia, kekuasaan Carangsoko diserahkan kepada R. Kembangjaya sebagai pengganti Adipati Carangsoko dan Ki Dalang Sapanyana diangkat sebagai patih ,dengan nama Singasari.

Raden Kembangjaya lalu menyatukan tiga kekuasaan, Kadipaten Carangsoko, dan kadipaten Paranggaruda yang kalah perang serta wilayah Majasemi di jadikan satu Kadipaten. Untuk memperluas pemerintahan  yang lebih mantap, R.Kembangjaya mengajak Patihnya Ki Dalang Sapanyana atau Singasari untuk mencari lokasi yang bagus. Sampailah pilihan jatuh pada hutan atau alas kemiri ( Sekarang Desa kemiri ). Hutan yang masih lebat belum pernah dijamah manusia, di huni oleh banyaknya binatang buas dan para siluman. Dengan kesaktian R. Kembangjaya dibantu patihnya Singasari berhasil menundukkan binatang-binatang buas dan raja siluman, untuk pindah dari hutan kemeri tersebut. Dan bahu – membawu, dengan gotong- royong penuh dengan kerukunan, orang-orang R.Kembangjaya membabat pohon-pohon besar membuka hutan kemiri itu di jadikan pemungkiman  atau kota.

Saat R. Kembangjaya istirahat setelah lelah  menebang pohon, melihat ada orang jualan dengan cara memikul gentong,kemudian dipanggilnya. Setelah ditanya, penjual itu namanya Ki Sagola, jualan dawet. Selesai minum dawet Ki Sagola, Raden Kembang Joyo merasa terkesan akan minuman Dawet yang manis dan segar,   Raden  bertanya pada Ki Sagola tentang minuman yang baru diminumnya. Ki Sagola menceritakan bahwa minuman ini terbuat dari Pati Aren yang diberi Santan kelapa, gula aren/kelapa.  Mendengar jawaban itu Raden Kembang Joyo terispirasi, kelak kalau pembukaan hutan ini sudah selesai akan diberi nama Kadipaten Pati-Pesantenan. Lalu semua orang pekerja dikasih dawet untuk melepas dahaga, rasanya sangat segar, menambah semangat kerja mereka. Dalam perkembangannya tiga kekuasaan Kadipaten Carangsoko, Paranggaruda, dan Majasemi dijadikan satu pemerintahannya di Kadipaten Pesantenan yang menjadi makmur gemah ripah loh jinawi dibawah kepemimpinan KembangJoyo, kemudian bergelar Adipati Jayakusuma.


Kajeng Adipati Jayakusuma mempunyai seorang putra tunggal yaitu “ Raden Tombro “, setelah adipati Jayakusuma wafat, Raden Tombra diangkat menjadi Adipati Tambranegara di Kadipaten Pesantenan. Memerintah dengan arif, bijaksana,adil, sangat disukai rakyat. Kehidupan penuh dengan kedamaian, rukun, tenang, rakyat hidup makmur. Untuk memajukan pemerintahannya agar lebih bagus, mantap Adipati Tambranegara memindahkan pemerintahan Kadipaten Pesantenan yang semula berada di desa kemiri, kearah barat di desa Kaborongan dan mengganti nama menjadi Kadipaten Pati ( sekarang ).


Gambar-gambar atau  lambang Daerah Kabupaten Pati yang disahkan oleh peraturan  daerah Kabupaten No. 1 tahun 1971 yaitu gambar Keris Ramput Pinutung dan Kuluk Kanigara. Itulah pusaka milik Adipati Kembangjaya atau Jayakusuma sebagai pusaka sakti,sebagai lambang kekuatan, kekuasaan, persatuan, kemakmuran, keadilan, milik kadipaten Pati, sekarang jadi Kabupaten Pati. 

-----------------------------------------------------------------------

Cerita diambil dari cerita rakya yang sudah berkembang di masyarakat kota Pati pada khususnya
 Terima kasih pada temen-temen dari Yayasan Tombronegoro Pati,yang ikut Nguri-uri kabudayan dan peninggalan sejarah kota pati,  telah mendukung dan memberi semangat pada ikiwongpati. Juga pada temen-temen pembeca,teman blogger semoga bermanfaat.jika ada kritik sifatnya membangun siap menerima. Suwun

SEJARAH


Cerita Rakyat yang sudah merakyat asal-usul Kota Pati Jateng



SEJARAH  KOTA  PATI

 Banyak cerita yang berkembang di masyarakat tentang sejarah Kota Pati, tentunya  ada yang berbeda pendapat ,seperti halnya hari jadi kota Pati yang di tetapkan oleh pemerintah kabupaten daerah tingkat II Pati.
Tanggal 7 Agustus 13237 sebagai hari jadi Kabupaten Pati telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kabupaten Pati No.2/1994 tanggal 31 Mei 1994, menjadi moment Hari Jadi Kabupaten Pati dengan surya sengkolo “ KRIDANE PANEMBAH GEBYARING BUMI “ bermakna ; “ Dengan bekerja keras dan doa kita gali Bumi Pati untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriah dan bathiniah “. Maka setiap tanggal 7 Agustus diperingati sebagai “ Hari jadi Kabupaten Pati “.


 Hal ini juga menimbulkan polemik  pro dan kontra dikalangan sejarahwan, serta masyarakat sendiri. Para tim hari jadi Pati berpedoman pada cerita rakyat yang sudah berkembang dimasyarakat, beberapa prasasti yang di temukan dan  juga dari buku babab Pati. Kota Pati memang menyimpan segudang cerita dan benar-benar misteri. Bagaimana cerita terjadinya  kota Pati,penulis mengambil cerita rakyat yang sudah berkembang turun temurun dimasyarakat pada umumnya.

              Ini adalah cerita yang di wariskan secara turun-temurun oleh embah buyut kita. Ceritanya kurang lebih seperti ini. Dahulu di ceritakan diwilayah kota Pati, sebelum terjadinya kota Pati, ada dua Kadipaten yang berkuasa. Kadipaten tersebut adalah Kadipaten  Paranggaruda di pimpin oleh seorang Adipati yang bernama Adipati Yudhapati, ada di Desa Godo Kec, Winong yang sekarang ini. Wilayah kekuasaan Sebelah Selatan Bengawan Silugonggo atau Sungai Juwana (Dulu Cajongan ) membentang Gunung Kendeng  sekitarnya. Kedua Kadipaten Carangsoko yang dipimpin oleh Adipati Puspohandungjaya, wilayah sebelah utara sungai Bengawan Silugonggo daerahnya  meliputi wilayah kalau sekarang  Wedarijaksa, sekitar lereng gunung Muria meluas kepesisir utara . Kedua  Kadipaten ini selalu hidup rukun damai.

            Di kisahkan Kadipaten Paranggaruda penguasanya Adipati Yudhapati yang berpusat di Desa Godo Kec.Winong Sekarang ini. Sebagai wilayah kekuasaannya sebelah selatan Bengawan Silugonggo atau Sungai Juwana. Masyarakat menyakini karena di tempat Tersebut ada beberapa peninggalan sejarah, ada makam yang di yakini oleh masyarakat sekitar sebagai makam Kajeng Adipati Yudhapati dan sangat di keramatkan di uri-uri keberadaannya. Dua buah pohon asam yang sangat besar juga di yakini oleh masayarakat sekitar sebagai peninggalan jaman dulu,serta beberapa benda sejarah lain.

            Dikisahkan Adipati Yudhapati penguasa Kadipaten Paranggaruda dalam masa pemerintahannya rakyat “ Gemah Ripah Loh Jinawi “ rakyat cukup sandang pangan dan papan ,makmur aman sentosa. “ Gemah  “ banyak  orang-orang yang melakukan perdagangan ,jual beli baik daerah sendiri maupun luar kota. “Ripah “ banyak orang-orang yang berdatangan bertempat tinggal dan melakukan aktifitas membuat daerah menjadi ramai.. “ Loh jinawi “, loh jinawi itu memiliki arti apa yang ditanam pasti tumbuh dengan subur, dan serbar murah, sebab semuanya tersedia. “Loh” berarti tukul kang sarwo tinandur,walaupun dengan saluran air atau irigasi yang masih sederhana. Daerah yang “karta tur rahardja”, kerta : diartikan kawula hidup tentram, dan rahardja: diartikan tidak ada yang mengusik atau aman.
Kadipaten Paranggaruda dengan  Adipati Yudhapati. Adipati dalam pemerintahannya diceritakan dibantu oleh seorang Patih bernama Singopati yang bertempat tinggal di Kropak (di Kecamatan  Winong sekarang ). Sedangkan sebagai tamtama bernama Yuyurumpung. Yuyurumpung ini mempunyai orang kepercayaan bernama Sondong Majeruk, di desa Majeruk di Kabupaten Rembang sekarang. Para bekel atau demang – demang yang menjadi penguasanya adalah Demang Gendala, Demang Semut, Demang Gunungpanti, Demang Tlagamaja dan Demang Jembangan (sekarang disebut Batangan).
            
Sedangkan di ceritakan Kadipaten Carangsoka keadaannya lebih subur daripada Kadipaten Paranggaruda. Karena di lihat dari banyaknya sungai – sungai untuk keperluan irigasi pertanian,perkebunan dan perikanan atau kolam, sungai – sungai  antara lain: kali Sani, kali Gungwedi, kali Kersula, dan kali Tayu, sehingga daerah tersebut menjadi subur. Disamping itu Kadipaten Carangsoka mempunyai pertanian, perkebunan yang meningkat dan penghasil perikanan berupa ikan laut di pantai timur dan perikanan darat. Lintas perdagangan melalui pelabuhan Juwana (Cajongan) sehingga banyak pedagang yang datang dari luar daerah.
Kadipaten Carangsoka dipimpin oleh Adiapati Raden Puspahandungjaya yang memiliki sifat “berbudi bawa laksana” dengan Patihnya bernama Raden Singapandu, bertempat tinggal di desa Nguren sekarang. Pemerintahan Kadipaten Carangsoka saat itu dalam suasana aman dan tentram. Adapun sebagai tamtama adalah Sondong Makerti yang sakti mandraguna, trengginas dan trampil olah prajurit dan bertempat tinggal di Wedari konon cerita mempunyai lembu sakti “sapi gumarang”.

Adipati Puspohandungjaya mempunyai seorang adik ipar yang sakti, masih muda, pandai dan cekatan yang dapat membantu jalannya pemerintahan di Kadipaten Carangsoka, bernama Raden Sukmayana dan bertempat tinggal di Majasemi sebagai penggede (Mojoagung sekarang), selain itu Adipati mempunyai putri bernama Dewi Rara Rayung Wulan yang cantik jelita.

Adipati Yudhapati di Paranggaruda mempunyai anak laki – laki bernama Raden Bagus Menak Jasari yang kemudian hari diharapkan akan menggantikan tahta memegang Adipati di Paranggaruda. Karena Raden Bagus Menak Jasari sebagai anak tunggal maka segala permintaaan selalu dikabulkan, tetapi sayang dalam ceita di kisahkan Raden Bagus Jasari ini mempunyai potongan tubuh cacat atau tidak normal, pendek leher, kaki pengkor, jari – jari tidak normal,dan punya penyakit kulit gatal-gatal.
Gambar dari google
Inilah awal cerita dari tragedi cinta bermula dan mengawali cerita terjadinya kota Pati. Untuk mempererat tali persahabatan, persaudaraan, Kadipaten Paranggaruda berencana menjodohkan anaknya. Raden Jasari  dijodohkan dengan putri dari Carangsoka yang bernama Dewi Rara Rayung Wulan. Adipati Yudhapati utusan patih Singopati untuk melamarnya. Adipati Carangsoka dengan bijaksana menyerahkan semua keputusan  pada anaknya, Dewi Rayung Wulan bersedia untuk di nikahkan  dengan Raden Jasari akan tetapi, Dewi Rayung Wulan minta   “ bebono “ atau syarat pada hari pernikahannya minta diarak kesenian wayang kulit dengan dalang Ki Sapanyana dan peralatan wayang kulit, gamelan tersebut dapat datang sendiri dan berbunyi sendiri. Kemudian Patih Singopati melapor kepada Adipati Yudhapati tentang permintaan Dewi Rayung Wulan, diperintahkan Yuyurumpung yang siap menjalankan tugas.

Ceritanya apa yang  diminta Dewi Rara Rayung wulan terpenuhi, Dewi Rara Rayung Wulan meminta Ki Dalang Sapanyana harus memainkan lakon yang sangat sedih, seperti lakon yang baru dia alami. Karena Dewi Rara Rayung Wulan tidak suka perjodohan ini,  Dewi Rara Rayung wulan tidak mencintai Raden Jasari.  Ki Dalang Sapanyana menyanggupinya walau ini lakon yang tidak biasa dia lakonkan. Dengan dibantu oleh adiknya  ki Dalang yaitu Roro Ayu Ambarsari dan Roro Ayu  Ambarwati sebagai waranggono atau swarawati.
 Kisah atau lakon wayang yang sedih inilah menggambarkan kesedihan hati Dewi Rayung Wulan. Semua penonton seakan terhipnotis dengan lakon yang di mainkan oleh Ki Dalang Sapanyana tersebut. Saat pertunjukan wayang berjalan, Dewi Rayung Wulan tiba-tiba lari kearah dalang Sapanyana, dan minta diajak kabur. Tentu Ki Dalang Sapanyana sangat kaget, dan terjadi kekeribut dalam acara pernikahan tersebut. Konon cerita Ki Dalang Sapanyono mengeluarkan kesaktiannya memadamkan semua lampu penerangan yang ada, saat gelap itu Ki Dalang Sapanyono mengambil kesempatan untuk melarikan diri. 

Acara pernikahan yang berantakan,gempar, saat penerangan di hidupkan kembali, Ki Dalang Sapanyana,Dewi Rayung Wulan dan kedua Swarawati , Ambarsari, Ambarwati sudah tidak ada mereka berempat sudah melarikan diri, Adipati Carangsoko marah memeritahkan patihnya untuk mengatasi semua ini. Sedangkan Adipati Paranggaruda dan anaknya R.Jasari marah besar dan memerintahkan Patih dan seluruh prajuritnya untuk mengejar mereka. Dengan amarah yang meluap luap merasa dipermalukan mengobrak-abrik dengan kasar dan paksa memeriksa setiap rumah penduduk yang ditemuinya ini sangat tidak membuat senang penduduk desa wilayah Carangsoko.

 Dalam pelarian Ki Dalang Sapanyana dengan Dewi Rayung Wulang dan  Dewi Ambarsari,  Ambarwati, terus lari masuk hutan menelusuri aliran sungai. dan secara tidak segaja ketemu dengan Raden Kembangjaya di dukuh Bantengan (Kecamatan Trangkil sekarang). 

            Konon cerita awal pertemuanya, saat Ki Dalang Sapanyana berempat istirahat, betapa sulitnya pelarian ini yang harus membawa tiga orang putri, terutama Dewi Rayung Wulan yang tidak pernah keluar Kadipaten dan tidak pernah kerja keras. Saat mereka kehausan butuh makan .minum,panas teriknya matahari di musim kemarau menyiksa mereka. Ki Dalang sangat bingung mau minta penduduk tidak berani takut kepergok para prajurit yang mengejarnya. 

            Sampailah mereka diperkebunan warga pinggir hutan,disitu ada sebuah sumur oleh petani airnya untuk minum dan menyirami tanaman. Ki Dalang Sangat senang, tapi saat mau mengambil air sumur,tidak ada timba ataupun tali.Konon ceritanya Ki Dalang Sapanyana berdoa menggeluarkan kesaktiannya dengan cara menggulingkan sumur tersebut untuk diambil airnya. Bagaimana…. bisa membayangkan sumur digulingkan, itu ceritanya, sampai sekarang sumur tersebut masih ada dan dirawat serta di uri-uri warga setempat. Sumur tersebut terkenal dengan nama Sumur Gemuling dengan arti kata digulingkan, berada dukuh Bantengan, Trangkil Pati utara.

            Dilanjutkan ceritannya, saat Ki Dalang Sapanyana mengambil buah-buahan dipersawaan warga, karena saking seringnya akhirnya ketahuan oleh Raden Kembangjaya,dan para warga. Ki Dalang terkepung, terjadi perang tandi adu kesaktian antara Ki Dalang Sapanyana dan Raden Kembangjaya, sementara ketiga putri bersembunyi menyaksikan pertarungan yang mendebarkan itu dari persembuyian.

            Ki Dalang Sapanyana akhirnya bisa di tundukan oleh Raden Kembangjaya,karena kalah sakti. Ki Dalang sudah tidak berdaya ketika R.Kembanjaya menyuruh warga untuk mengikat tangannya. Saat itulah Rayung Wulan dan Ambarsari,Ambarwati berlari menghampirinya, minta pengampunan. R.Kembanjaya sangat kaget, tidak mengira kalau “ Maling “ buah-buahan ini disertai dengan tiga Putri yang cantik-cantik. Rayung Wulan kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mendengar cerita Dewi Rayung Wulan, Ki Dalang di bebaskan ikatannya dan keempatnya diajak pulang ke Majasemi Menghadap Panewu Raden Sukmayana.
            Sudah Diceritakan Raden Sukmayana adalah adalah penguasa di wilayah Majasemi atau Mojoagung,  adik ipar Adipati Carangsoko. Setelah keempat menghadap R. Sukmayana, dan menceritakan semuanya, R.Sukmayana bersedia menampung dan melindungi mereka. Ki Dalang Sapanyana sangat berterima kasih, dan memberikan kedua saudaranya untuk dijadikan hambanya. Ambarsari diambil oleh Raden.Sukmayana sebagai selir, Ambarwati diberikan pada R.Kembangjaya dijadikan istri. Sedangkan Dewi Rayung Wulan dikembalikan ke orang tuanya di kadipaten Carangsoko.

            Perang sudah tidak terelakan lagi atara Kadipaten Carangsoko dan Kadipaten Paranggaruda, yang sudah merasa dipermalukan. Dengan amarah besar Adipati Yudhapati memerintahkan prajuritnya untuk menyerbu Kadipaten Carangsoko dan Majasemi, mengempur habis-habisan,   kobaran api amarah tidak terbendung lagi. Adipati Puspo handungjaya dibantu oleh penguasa Majasemi R.Sukmayana dan adiknya R.Kembangjaya ,serta Ki Dalang Sapanyana sudah  siap tempur menghadapi prajurit Paranggaruda.
            Mungkin ada yang bertanya siapa Ki dalang Sapanyana
           Dalam cerita  Ki Dalang Sapanyana adalah keponakannya Buyut Sabirah (Nyai Ageng Bakaran) yang semula bernama Nyai Banowati. Ki Dalang Sapanyana merupakan pelarian perang  dari Jawa Timur. Setelah membantu Raden Kembangjaya mendirikan Kadipaten Pesantenan kemudian diangkat menjadi Patih di Kadipaten tersebut, dan namanya diganti menjadi Raden Singasari.
            Di Purwodadi ada tempat petilasan Ki Dalang Sapanyono ,konon untuk menyepi Dalang Sapanyana sebelum diangkat Patih di Kadipaten Pesantenan, sampai sekarang dipergunakan nyepi para calon dalang. Sedangkan di desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana juga terdapat petilasan berupa gilang yang bertekuk cerita merupakan tempat duduk Ki Dalang Sapanyana saat sedang mendalang. Sampai sekarang petilasan tersebut dikeramatkan dan banyak dikunjungi orang.

Kembali cerita pelarian Ki Dalang Sapanyana dan Rayung Wulan, para prajurit Paranggaruda yang mengejar Ki Dalang akhirnya tahu kalau,Ki Dalang dan Rayung Wulang disembunyikan oleh penggede Majasemi,Raden Sukmayana dan adiknya Raden Kembangjaya. Digempurnya Majesemi,tapi amukan prajurit parang garuda bisa diatasi oleh Raden Sukmayana dan dihajar habis,mereka lari kembali ke Kadipaten Paranggaruda dan lapor pada Adipati Yudhapati.
            Amarah Adipati Parangaruda semakin menjadi,memerintahkan patihnya,tatama seluruh prajurit untuk maju perang,menggempur Majasemi dan kadipaten Carangsoko. Diceritakan kalau Raden Sukmayana mempunyai dua pusaka yang ampuh, sakti pilih tanding yaitu Kuluk Kanigoro dan Keris Ramput Pinutung. Yuyu Rumpung pentolan prajurit Paranggaruda tahu kalau kedua pusaka sakti itu dimiliki oleh R.Sukmayana diMojasemi, maka Yuyu Rumpung memerintahkan anak buahnya Sondong Majeruk untuk mencuri pusaka tersebut.Dengan kesaktiannya Sondok Majeruk berhasil mencuri kedua pusaka tersebut, diperjalanan  ketahuan oleh prajurit kepercayaan Majesemi yaitu Sondong Makerti.

Perkelahian perebutan kedua pusaka sakti, antara Sondong Majeruk dan Sondong Makerti, menguras tenaga keduanya, mereka sama-sama sakti, sama-sama prajurit pilihan. Sondong Majeruk akhirnya kehabisan tenaga, kalah sakti dengan Sondong Makerti.  Kedua Pusaka Sakti Kuluk Kanigoro dan Karis Ramput pinutung dengan satu taktik bisa direbut kembali oleh Sondong Makerti, dan Sondong Majeruk gugur dengan tusukan keris Ramput Pinutung yang sudah ada ditanggan Sondong Makerti. Oleh Sondong Makerti kedua pusaka tersebut dikembalikan lagi ke pemiliknya,R.Sukmayana di Majasemi.    gambar dari google
                                 
            Perang terus berkobar, sudah banyak korban dikedua belah pihak, Wilayah Majasemi dan Kadipaten Carangsoka digempur oleh Prajurit-prajurit Paranggaruda, Raden Sukmayana penggede Majesemi dengan gagah, maju kepalagan berusaha menghalau amukan prajurit paranggaruda, R.Sukmayana akhirnya gugur dimedan perang. 
            Gugurnya Raden Sukmayana ( kakak kandung R. Kembangjaya ), membuat marah R.kembangjaya amarahnya meluap, diambil alihnya kedua pusaka Kuluk Kanigoro dan Keris Ramput Pinutung memimpin perang dibantu Ki Dalang Sapanyana, mengamuk,mengobrak-abrik pasukan Paranggaruda, mengeluarkan semua kesaktiannya, prajurit musuh diterjang hingga kocar-kacir banyak jatuh korban dipihak musuh. Melihat amukan dan semangat R.Kembangjaya, Kidalang Sapanyana serta prajurit Majasemi,Carangsoka kembali ikut berkobar-kobar, membara bagai panasnya lahar gunung berapi, prajurit Paranggaruda dihajar habis-habisan. Mereka banyak yang tewas sebagian melarikan diri dan menyerah tunduk dihadapan R. Kembangjaya dan pasukan Majasemi,Carangsoka.

            Sedangkan pertempuran antara Patih Paranggaruda Singopati  dan Patih Carangsoko Singopadu, sangat melelahkan, mereka bertemu lawan yang seimbang,sama-sama sakti,sama-sama kuat dan akhirnya mereka sama-sama gugur di medan perang dengan gagah berani. Begitu juga dengan Adipati Yudhapati dapat dikalahkan oleh R.Kembangjaya dengan bekal kedua pusaka sakti Kuluk Kanigoro dan Keris Ramput Pinutung, Adipati Paranggaruda gugur,ditanggan R. Kembangjaya.  Radem Jasari anak Adipati Yudhapati tewas ditanggan Ki dalang Sapanyana.

Perang akhirnya berakhir dengan banyak membawa korban di kedua belah pihak, Adipati Carangsoko, Adipati Puspa Handungjaya sangat berterima kasih dengan R. Kembangjaya.  Dewi Rayung wulan diserahkan kepada R. Kembangjaya sebagai Istri, selain Dewi Ambarwati dan tinggal di Kadipaten Carangsoko. Setelah Adipati Puspo Handungjaya lanjut usia, kekuasaan Carangsoko diserahkan kepada R. Kembangjaya sebagai pengganti Adipati Carangsoko dan Ki Dalang Sapanyana diangkat sebagai patih ,dengan nama Singasari.

Raden Kembangjaya lalu menyatukan tiga kekuasaan, Kadipaten Carangsoko, dan kadipaten Paranggaruda yang kalah perang serta wilayah Majasemi di jadikan satu Kadipaten. Untuk memperluas pemerintahan  yang lebih mantap, R.Kembangjaya mengajak Patihnya Ki Dalang Sapanyana atau Singasari untuk mencari lokasi yang bagus. Sampailah pilihan jatuh pada hutan atau alas kemiri ( Sekarang Desa kemiri ). Hutan yang masih lebat belum pernah dijamah manusia, di huni oleh banyaknya binatang buas dan para siluman. Dengan kesaktian R. Kembangjaya dibantu patihnya Singasari berhasil menundukkan binatang-binatang buas dan raja siluman, untuk pindah dari hutan kemeri tersebut. Dan bahu – membawu, dengan gotong- royong penuh dengan kerukunan, orang-orang R.Kembangjaya membabat pohon-pohon besar membuka hutan kemiri itu di jadikan pemungkiman  atau kota.

Saat R. Kembangjaya istirahat setelah lelah  menebang pohon, melihat ada orang jualan dengan cara memikul gentong,kemudian dipanggilnya. Setelah ditanya, penjual itu namanya Ki Sagola, jualan dawet. Selesai minum dawet Ki Sagola, Raden Kembang Joyo merasa terkesan akan minuman Dawet yang manis dan segar,   Raden  bertanya pada Ki Sagola tentang minuman yang baru diminumnya. Ki Sagola menceritakan bahwa minuman ini terbuat dari Pati Aren yang diberi Santan kelapa, gula aren/kelapa.  Mendengar jawaban itu Raden Kembang Joyo terispirasi, kelak kalau pembukaan hutan ini sudah selesai akan diberi nama Kadipaten Pati-Pesantenan. Lalu semua orang pekerja dikasih dawet untuk melepas dahaga, rasanya sangat segar, menambah semangat kerja mereka. Dalam perkembangannya tiga kekuasaan Kadipaten Carangsoko, Paranggaruda, dan Majasemi dijadikan satu pemerintahannya di Kadipaten Pesantenan yang menjadi makmur gemah ripah loh jinawi dibawah kepemimpinan KembangJoyo, kemudian bergelar Adipati Jayakusuma.


Kajeng Adipati Jayakusuma mempunyai seorang putra tunggal yaitu “ Raden Tombro “, setelah adipati Jayakusuma wafat, Raden Tombra diangkat menjadi Adipati Tambranegara di Kadipaten Pesantenan. Memerintah dengan arif, bijaksana,adil, sangat disukai rakyat. Kehidupan penuh dengan kedamaian, rukun, tenang, rakyat hidup makmur. Untuk memajukan pemerintahannya agar lebih bagus, mantap Adipati Tambranegara memindahkan pemerintahan Kadipaten Pesantenan yang semula berada di desa kemiri, kearah barat di desa Kaborongan dan mengganti nama menjadi Kadipaten Pati ( sekarang ).


Gambar-gambar atau  lambang Daerah Kabupaten Pati yang disahkan oleh peraturan  daerah Kabupaten No. 1 tahun 1971 yaitu gambar Keris Ramput Pinutung dan Kuluk Kanigara. Itulah pusaka milik Adipati Kembangjaya atau Jayakusuma sebagai pusaka sakti,sebagai lambang kekuatan, kekuasaan, persatuan, kemakmuran, keadilan, milik kadipaten Pati, sekarang jadi Kabupaten Pati. 

-----------------------------------------------------------------------

Cerita diambil dari cerita rakya yang sudah berkembang di masyarakat kota Pati pada khususnya
 Terima kasih pada temen-temen dari Yayasan Tombronegoro Pati,yang ikut Nguri-uri kabudayan dan peninggalan sejarah kota pati,  telah mendukung dan memberi semangat pada ikiwongpati. Juga pada temen-temen pembeca,teman blogger semoga bermanfaat.jika ada kritik sifatnya membangun siap menerima. Suwun

SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER