03/12/17 - Cerita Wong Pati

Halaman

    Social Items

 WISATA RELIGI PATI
PUNDEN GENUK KEMIRI
( Makam Kanjeng Adipati Kembang Jaya )

Ringkas cerita Punden Genuk Kemiri, berakhirnya perang yang banyak membawa korban di kedua belah pihak, antara Kadipaten Carangsoko dan Kadipaten Paranggaruda, dengan gugurnya Adipati Yudhapati penguasa Kadipaten Paranggaruda. Adipati Puspa Handungjaya penguasa Kadipaten Carangsoko  sangat berterima kasih dengan R.Kembangjaya. Dewi Rayung wulan diserahkan kepada R.Kembangjaya sebagai Istri,selain Dewi Ambarwati dan tinggal di Kadipaten Carangsoko. Setelah Adipati Puspo Handungjaya lanjut usia,kekuasaan Carangsoko diserahkan kepada R.Kembangjaya sebagai pengganti Adipati Carangsoko dan Ki Dalang Sapanyana diangkat sebagai patih ,dengan nama Singasari.

Raden Kembangjaya lalu menyatukan tiga kekuasaan, Kadipaten Carangsoko, dan kadipaten Paranggaruda yang kalah perang serta wilayah Majasemi di jadikan satu Kadipaten. Untuk memperluas pemerintahan  yang lebih mantap, R.Kembangjaya mengajak Patihnya Ki Dalang Sapanyana atau Singasari untuk mencari lokasi yang bagus. Sampailah pilihan jatuh pada hutan atau alas kemiri ( Sekarang Desa kemiri ). Hutan yang masih lebat belum pernah dijamah manusia, di huni oleh banyaknya binatang buas dan para siluman. Dengan kesaktian R. Kembangjaya dibantu patihnya Singasari berhasil menundukkan binatang-binatang buas dan raja siluman, untuk pindah dari hutan kemeri tersebut. Dan bahu – membawu, dengan gotong- royong penuh dengan kerukunan, orang-orang R.Kembangjaya membabat pohon-pohon besar membuka hutan kemiri itu di jadikan pemungkiman  atau kota.

Saat R. Kembangjaya istirahat setelah lelah  menebang pohon, melihat ada orang jualan dengan cara memikul gentong,kemudian dipanggilnya. Setelah ditanya, penjual itu namanya Ki Sagola, jualan dawet. Selesai minum dawet Ki Sagola, Raden Kembang Joyo merasa terkesan akan minuman Dawet yang manis dan segar,   Raden  bertanya pada Ki Sagola tentang minuman yang baru diminumnya. Ki Sagola menceritakan bahwa minuman ini terbuat dari Pati Aren yang diberi Santan kelapa, gula aren/kelapa.  Mendengar jawaban itu Raden Kembang Joyo terispirasi, kelak kalau pembukaan hutan ini sudah selesai akan diberi nama Kadipaten Pati-Pesantenan. Lalu semua orang pekerja dikasih dawet untuk melepas dahaga, rasanya sangat segar, menambah semangat kerja mereka. Dalam perkembangannya tiga kekuasaan Kadipaten Carangsoko, Paranggaruda, dan Majasemi dijadikan satu pemerintahannya di Kadipaten Pesantenan yang menjadi makmur gemah ripah loh jinawi dibawah kepemimpinan KembangJoyo, kemudian bergelar Adipati Jayakusuma.

Adipati Jayakusuma  mempunyai  seorang putra tunggal yaitu " Raden Tambra ". Setelah ayahnya wafat, Raden Tambra diangkat menjadi Adipati Pesantenan, dengan gelar " Adipati Tambranegara ". Dalam menjalankan tugas pemerintahan Adipati Tambranegara bertindak arif dan bijaksana. Sangat memperhatikan nasib rakyatnya, adil dan bijaksana serta menjadi pengayom bagi hamba sahayanya. Kehidupan rakyatnya penuh dengan kerukunan, kedamaian, ketenangan dan rakyat hidup sejahtera. Untuk memajukan pemerintahan di wilayahnya Adipati Raden Tambranegara kemudian memindahkan pusat pemerintahan Kadipaten Pesantenan yang semula berada di desa Kemiri menuju ke arah barat yaitu, di Desa Kaborongan, dan mengganti nama Kadipaten Pesantenan menjadi Kadipaten Pati ( Sekarang ).
Semoga dengan banyaknya warga Pati yang selalu mencintai sejarah,mencintai peninggalan leluhur sebagai kenangan masa lalu. Kita semua mau menjaga dan merawatnya ,acungan jepol lagi kalau intansi pemerintah kota Pati dengan sungguh-sungguh, iklas hati,  melerstarikan cagar budaya di kota Pati ini.jooos.



WISATA RELIGI PATI

SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER